Jumat, 03 Mei 2013

            Dijaman sekarang ini fanatisme sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat. Bahkan sudah banyak kumpulan – kumpulan dengan tujuan yang sama yaitu mengidolakan bahkan sangat mengidolakan seseorang atau agama. Fanatisme sendiri memiliki arti sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan atau apapun saja dengan cara berlebihan (membabi buta) sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Sudah dapat dipastikan melalui pengertian fanatisme tersebut kalau fanatisme lebih banayak menuju ke arah yang negatif dibanding positif.
            Kelompok fanatisme juga kurang lebih banyak memprngaruhi orang – orang disekitarnya agar semakin banyak anggota kelompoknya. Sudah sangat terlihat bagaimana berhasilnya mereka mempengaruhi orang di sekitarnya, coba lihat dan perhatikan salah satu kelompok fanatisme, makain banyak bukan anggotanya? Yang saya ketahui ada beberapa kelompok fanatisme yang sering melakukan kerusuhan yaitu fanatisme timnas, fanatisme grup band, bahkan fanatisme agama. Kebanyakan mereka membuat kerusuhan entah karena kekecewaan dengan idolanya atau kerusuhan dikarenakan bertenngkar dengan orang yang anti dengan idolanya. Sudah sangat lumrah fenomena kerusuhan oleh kelompok – kelompok fanatisme. Tidak jarang di setiap kerusuhan memakan korban banyak yang meninggal ataupun luka – luka.
            Ada ciri jelas dari fanatisme yaitu ketidakmampuan memahami karakteristik individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah. Inilah yang menjadi karakteristik pada kelompok fanatisme yaitu tidak mampu melihat keadaan diluar kelompoknya. Yang mereka tahu kelompoknya benar dan orang yang menentang kelompoknya salah. Berikut contoh kelompok fanatisme timnas belanda.
            Di Kota Ambon, mungkin kalo dihitung hitung hampir 70% warga kota Ambon adalah fans fanatiknya Timnas Belanda. Tidak bisa dipungkiri lagi hubungan antara orang Maluku dengan belanda. Seperti yang kita tahu banyak sekali orang maluku yang berada dan menjadi warga negara Belanda dan beberapa dari mereka menjadi pesepakbola terkenal di Belanda. Sebut saja Geovani Van Bhronkhost mantan kapten Timnas Belanda di Piala Dunia 2010 Afsel. Gio mempunyai darah maluku dari ibunya yang bermarga sapulette. Bahkan saking fanatiknya orang Ambon kepada Timnas Belanda, setiap kali Timnas Belanda akan bertanding, mereka akan pawai keliling Kota Ambon dengan atribut atribut Timnas Belanda. Dan sempat juga Fans belanda di Kota Ambon bentrok dengan fans Brazil saat pertandingan Piala Dunia 2010. Itulah salah satu contoh fanatisme penggemar sepak bola terhadap tim favoritnya yang kadang berlebihan dalam mendukung tim favorit mereka yang bisa saja menimbulkan dampak buruk bagi mereka sendiri.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Fanatisme
http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-fanatisme-%2C72
http://eliku08.blogspot.com/2012/06/fanatisme-dalam-sepak-bola.html

A. Penyesuaian Diri
1. Pengertian
            Penyesuaian diri dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
2. Konsep
Kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan di mana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Jika ditinjau dari konsep dari penyesuaian diri itu sendiri, tentu merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya karena ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.
3. Pertumbuhan Personal

Manusia merupakan makhluk individu. Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian.

Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
 1. Faktor Biologis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala, tangan , kaki dan lainya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus. Artinya, setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik fisik yang sama.
 2. Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan mencimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
 3. Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan kebuadayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga. Dari semua faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia. Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar terdapat dua faktor.

B. STRES

1.Pengertian dan Efek

Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain. Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang.

Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri. Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.

Efek dari stress, yaitu :
Efek dari stress bermacam-macam, mulai dari timbulnya uban, membahayakan kesehatan jantung, resiko stroke meningkat, meningkatkan resiko penyakit kronis, memicu gejala depresi,  dan juga tumor dan kanker. Ini terbukti dari berbagai penelitian mengenai stress, yang biasanya berakibat pada munculnya suatu hormon akibat stress tersebut. Diharapkan, di masa depan akan muncul obat-obatan untuk mengatasi berbagai efek dari stress ini. Apalagi stress yang kronis dapat mengakibatkan penurunan kadar protein p53. Sementara itu jenis protein ini dibutuhkan untuk mencegah munculnya kanker.


2. Faktor

Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga kelompok sumber yang menyebabkan stress, yaitu :
Fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas, dan kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bencana alam, perang, banjir, dan sebagainya. Kejadian-kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti respon seseorang terhadap penyakit atau kematian. Daily hassles, yaitu masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut ketidakpuasan kerja atau masalah-masalah lingkungan seperti kesesakan atau kebisingan karena polusi.






3. Tipe-tipe Stres Psikologi
  • Tekanan :
  • Frustasi: Frustasi adalah situasi apapun dimana individu tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Kegagalan dan kehilangan adalah dua hal yang terutama membuat frustasi.
  • Konflik: Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
  • Kecemasan: Taylor (1953) dalam Tailor Manifest Anxiety Scale (TMAS) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Carlson (1992:201) menjelaskan kecemasan sebagai rasa takut dan antisipasi terhadap nasib buruk dimasa yang akan datang, kecemasan ini memiliki bayangan bahwa ada bahaya yang mengancam dalam suatu aktivitas dan obyek, yang jika seseorang melihat gejala itu maka ia akan merasa cemas.

4. Mekanisme pertahanan diri dan Coping Stres
a. Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah. Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003 : 566) penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu:

  • Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
  • Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.

b.Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar (Santrock, 2003 : 567):

  • Strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
  • Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres
Menurut Ebata & Moos, 1994 (dalam Santrock, 2003 : 567) individu yang menggunakan strategi mendekat untuk menghadapi stres adalah remaja yang berusia lebih tua, lebih aktif, menilai stresor utama yang muncul sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan dan sebagai suatu tantangan, dan memiliki sumber daya sosial yang dapat digunakan. Sedangkan, individu yang menggunakan strategi menghindar mudah merasa tertekan dan mengalami stres, memiliki stresor yang lebih kronis, dan telah mengalami kejadian-kejadian yang lebih negatif dalam kehidupannya selama tahun sebelumnya.

c. Berpikir positif dan self-efficacy
Menurut Bandura (dalam Santrock, 2003 : 567) self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif (dalam Santrock, 2003 : 568).

d. Sistem dukungan
Menurut East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar (dalam Santrock, 2003 : 568), keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain – terutama dengan keluarga dan teman – secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

e. Berbagai strategi penanganan stres
Dalam penanganan stres dapat menggunakan berbagai strategi coping, karena stres juga disebabkan tidak hanya oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai faktor (Susman, 1991 dalam Santrock, 2003 : 569).


5. Problem Solving terhadap Stres

Kita mengalahkan stress dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang membuat stress itu). Misalnya, kita stress karena menderita suatu penyakit, maka kita menyelesaikan masalah dengan berobat sehingga penyakit kita bisa sembuh. Atau bisa juga dengan mengusahakan agar kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi (bila situasinya sendiri tidak bisa dirubah).


Sumber:
http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html
http://tysar.wordpress.com/2009/06/24/pengertian-kecemasan/
http://yuliamasri-yuliamasri.blogspot.com/2010/05/makalah-kelompok-psikologi.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
http://salvinirayyan-tugas.blogspot.com/2011/03/stress-dan-penyesuaian-diri.html
http://meltri-elia.blogspot.com/2011/04/stress-menurut-hans-selye.html
http://erriskareza.blogspot.com/2012/02/faktor-faktor-yang-menyebabkan-stress.html
http://mita.blog.unair.ac.id/2012/05/11/efek-stress/
http://health.detik.com/read/2013/02/05/152425/2161718/763/4/ketahuilah-ini-9-efek-mengerikan-dari-stres#bigpic
http://masimamgun.blogspot.com/2010/04/konsep-penyesuaian-diri.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
http://naratekpend.wordpress.com/2012/07/03/penyesuaian-diri-remaja/

Senin, 01 April 2013

 
            Sehat menurut saya adalah suatu kondisi dimana tubuh atau jasmani dalam keadaan prima dan normal serta bisa melakukan kegiatan tanpa lelah fisik yang berlebih seperti orang sakit. Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 1948, kesehatan didefinisikan sebagai “keadaan lengkap fisik, mental, dan kesejahteraan sosial dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”. Pada 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa kesehatan adalah “sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan dari kehidupan.
            Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Menurut White (1977) Sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan. Sedangkan menurut Pepkin’s Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
Kesehatan manusia dipengaruhi oleh 6 faktor yaitu : 1. Udara 2. Air 3. Makanan dan Minuman 4. Keseimbangan Emosi 5. Olahraga Teratur 6. Istirahat Cukup
·         Konsep sehat berdasarkan :
            1.  Dimensi Emosi
          Menurut Goleman emosional merupakan hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah, sedih  dan senang. Emosi menurut kebanyakan orang adalah keadaan seseorang yang sedang marah, padahal sebenarnya emosi itu tidak hanya pada saat seseorang marah saat bahagia pun itu juga disebut emosi. Kemarahan bisa juga disebut emosi negatif sedangkan senang bisa disebut emosi positif. Menurut saya konsep sehat dimensi emosi adalah dimana seseorang dapat mengimbangi keadaan emosi positif dengan emosi negatif ataupun seseorang yang sudah pandai mengendalikan emosi dalam dirinya.
            2.  Dimensi Intelektual
                         Seringkali kecerdasaan atau intelektual seseorang dikaitkan bagaimana seseorang dapat mengendalikan emosi serta kesehatannya. Karena kecerdasan juga berperan dalam pengendalian sesuatu ataupun memutuskan dan memilih konsep – konsep yang baik.
            3.  Dimensi Sosial
            Kesehatan mental seseorang jika diukur dari dimensi sosialnya adalah bagaimana seseorang dapat melakukan interaksi sosial yang baik dengan lingkungan sekitar dengan suku, agama, ras ataupun kewarganegaraan yang berbeda.
            4.  Dimensi Fisik dan Mental
            Fisik seseorang dikatakan sehat apabila tidak merasakan sakit dan dapat beraktivitas secara normal dan optimal. Serta keadaan seluruh organ tubuh berjalan normal tidak memiliki gangguan. Sedangkan mental seseorang dikatakan sehat apabila emosi dan pikiran seseorang berjalan baik atau sehat seperti dapat mengendalikan emosi dan merubah pikiran yang negatif menjadi positif.
            5. Dimensi Spiritual
            Spiritual adalah sesuatu yang berhubungan dengan kerohanian atau keagamaan. Spiritual seseorang dikatakan baik apabila dapat mengekspresikan rasa syukur dan kepercayaan kepada Tuhan serta menjauhi  segala larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya.

·         Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
            Semua ilmu pasti tidak lepas dari sejarah kemunculan dan perkembangannya, begitupun kesehatan mental yang mempunyai sejarah perkembangannya. Sejarah perkembangan kesehatan mental dimulai dari era pra ilmiah sampai era ilmiah (modern).
A. Era pra Ilmiah
1. Kepercayaan Animisme
Sejak zaman dulu sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme, ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasisi oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebut.
Orang yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban.
2. Kemunculan Naturalisme
Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikuutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan ”Naturalisme”, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, syetan atau hantui sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, akan tetapi anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantuyang melukai badan anda”.
Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.
Dalam perkembangan selajutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi dikalangan orang-orang kristen. Seorang dokter perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat ditembok dan ditempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih, adan mereka dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan disekitar ruimah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan lagi kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.
B. Era Ilmiah (Modern)
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya Psikologi Abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya Mental Hygiene yang berkembang menjadi suatu ”Body Of Knowledge” berikut gerakan-gerakan yang teorganisir.
Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, dalam hal ini terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal duinia tanggal 17 July 1887. Dia adalah seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40tahun dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi.
Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dsekade 1900-1990 beberpa organisasi kesehetran mental telah didirikan, sepert: American Social Hygiene Associatin (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.
Perkembangan gerakan-gerakan dibidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.
Gerakan kesehatan mental ini terus berkambang, sehingga pada tahun 1075 di Amerika serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Dibelahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health Organization”.

·         Pendekatan Kesehatan Mental
            Disini akan dijelaskan pendekatan kesehatan mental menurut :
            1.  Orientasi Klasik
                        Klasik memiliki arti sempit, karena kajian ilmu kesehatan mental lebih diperuntukkan bagi orang yang mengalami gangguan & penyakit jiwa. Pendekatan ini banyak digunakan untuk penyembuhan ktraumatik di masa lalu.
            2.  Penyesuaian Diri
                        Difokuskan bagaimana individu dapat menyesuaikan diri di lingkungan sekitarnya serta menyesuaikan dengan norma yang berlaku.
            3. Pengembangan Potensi
                        Pendekatan yang difokuskan pada potensi yang ada pada diri seseorang. Bagaimana potensi seseorang untuk menjadikan dirinya dewasa ataupun untuk menempatkan dirinya sesuai keinginannya.

·         Teori Kepribadian Sehat
           
            1.  Aliran Psikoanalisis
                        Psikoanalisis telah memberi kepada kita hanya sisi yang sakit dari kodrat manusia karena hanya berpusat pada tingkah laku neurotis dan psikotis
            2.  Aliran Behavioristik
                        Behaviorisme memperlakukan manusia sebagai suatu mesin “suatu sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara – cara sesuai dengan hukum.”
            3.  Aliran Humanistik
                        Menurut aliran ini pribadi yang sehat adalah apabila individu dapat menerima diri apa adanya.
            4.  Pendapat Allport
                        Ada segi lain dari konsepsi Allport tentang kepribadian sehat yang mungkin terlihat paradoks. Dia mengemukakan bahwa meskipun subtujuan – tujuan yang dekat dapat dicapai, namun tujuan terakhir tidak dapat dicapai. Teori Allport tentang dorongan dari kepribadian yang sehat memasukkan juga “prinsip penguasaan dan kemampuan” yang berpendapat bahwa orang yang matang dan sehat tidak cukup dengan melaksanakan atau mencapai tingkat yang sedang.
            5.  Pendapat Carl Rogers
                        Rogers menempatkan suatu dorongan yang sistemnya tentang kepribadian :            memelihara, mengaktualisasi, dan meningkatkan semua segi individu. Syarat utama bagi timbulnya kepribadianyang sehat adalah penerimaan. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang yang diberikan dengan bebas, dan sikap yang ditampilkannya bagi anak itu menjadi norma dan standar yang diinternalisasikan.
            6.  Pendapat Abraham Maslow
                        Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri. Akan tetapi ada lebih banyak hal yang terkandung dalam teorinya tentang dorongan manusia.
            7.  Pendapat Erich Fromm
                        Fromm melihat kepribadian hanya sebagai suaut produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa harus didefenisikan menurut bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Faktor kunci ialah bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan            manusia.





                   Sumber :
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

;;