Jumat, 03 Mei 2013
Dijaman
sekarang ini fanatisme sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat. Bahkan
sudah banyak kumpulan – kumpulan dengan tujuan yang sama yaitu mengidolakan
bahkan sangat mengidolakan seseorang atau agama. Fanatisme sendiri memiliki
arti sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut
sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan atau apapun
saja dengan cara berlebihan (membabi buta) sehingga berakibat kurang baik,
bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Sudah
dapat dipastikan melalui pengertian fanatisme tersebut kalau fanatisme lebih
banayak menuju ke arah yang negatif dibanding positif.
Kelompok
fanatisme juga kurang lebih banyak memprngaruhi orang – orang disekitarnya agar
semakin banyak anggota kelompoknya. Sudah sangat terlihat bagaimana berhasilnya
mereka mempengaruhi orang di sekitarnya, coba lihat dan perhatikan salah satu
kelompok fanatisme, makain banyak bukan anggotanya? Yang saya ketahui ada
beberapa kelompok fanatisme yang sering melakukan kerusuhan yaitu fanatisme
timnas, fanatisme grup band, bahkan fanatisme agama. Kebanyakan mereka membuat
kerusuhan entah karena kekecewaan dengan idolanya atau kerusuhan dikarenakan
bertenngkar dengan orang yang anti dengan idolanya. Sudah sangat lumrah
fenomena kerusuhan oleh kelompok – kelompok fanatisme. Tidak jarang di setiap
kerusuhan memakan korban banyak yang meninggal ataupun luka – luka.
Ada
ciri jelas dari fanatisme yaitu ketidakmampuan memahami karakteristik
individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah. Inilah
yang menjadi karakteristik pada kelompok fanatisme yaitu tidak mampu melihat
keadaan diluar kelompoknya. Yang mereka tahu kelompoknya benar dan orang yang
menentang kelompoknya salah. Berikut contoh kelompok fanatisme timnas belanda.
Di Kota Ambon, mungkin kalo dihitung
hitung hampir 70% warga kota Ambon adalah fans fanatiknya Timnas Belanda. Tidak
bisa dipungkiri lagi hubungan antara orang Maluku dengan belanda. Seperti yang
kita tahu banyak sekali orang maluku yang berada dan menjadi warga negara
Belanda dan beberapa dari mereka menjadi pesepakbola terkenal di Belanda. Sebut
saja Geovani Van Bhronkhost mantan kapten Timnas Belanda di Piala Dunia 2010
Afsel. Gio mempunyai darah maluku dari ibunya yang bermarga sapulette. Bahkan
saking fanatiknya orang Ambon kepada Timnas Belanda, setiap kali Timnas Belanda
akan bertanding, mereka akan pawai keliling Kota Ambon dengan atribut atribut
Timnas Belanda. Dan sempat juga Fans belanda di Kota Ambon bentrok dengan fans
Brazil saat pertandingan Piala Dunia 2010. Itulah salah satu contoh fanatisme
penggemar sepak bola terhadap tim favoritnya yang kadang berlebihan dalam
mendukung tim favorit mereka yang bisa saja menimbulkan dampak buruk bagi
mereka sendiri.
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Fanatisme
http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-fanatisme-%2C72
http://eliku08.blogspot.com/2012/06/fanatisme-dalam-sepak-bola.html
Label: soft skill 4
A.
Penyesuaian Diri
1.
Pengertian
Penyesuaian diri dikenal
dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat
bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk
konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan
(mastery). Pada mulanya penyesuaian diri diartikan
sama dengan adaptasi
(adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada
penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya,
seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus
beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
2. Konsep
Kondisi fisik,
mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan
di mana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang
salah. Jika ditinjau dari konsep dari penyesuaian diri itu sendiri, tentu
merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental
individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan
dalam hidupnya karena ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan
kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak
jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan
oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesuaian diri dengan kondisi yang
penuh tekanan.
3.
Pertumbuhan Personal
Manusia
merupakan makhluk individu. Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah
lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku
umum. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan
tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang
panjang.Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau
kepribadian.
Dan hal itu
membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya
terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat
yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga.
Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma
tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam
lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus
di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
1. Faktor Biologis
Semua
manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala,
tangan , kaki dan lainya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan
dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat
khusus. Artinya, setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik
fisik yang sama.
2. Faktor Geografis
Setiap
lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya.
Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan
mencimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan
fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain,
maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3. Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan
kebuadayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti
semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama
juga memiliki kepribadian yang sama juga. Dari semua faktor-faktor di atas dan
pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan
memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka
terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan
sekitar.
McDougall
menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam
membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan
perilaku manusia. Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat
pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang
berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa
instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia.
Secara garis besar terdapat dua faktor.
B. STRES
1.Pengertian
dan Efek
Pada
dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental.
Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena
stress, disebut strain. Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan
sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai
suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan
atau penghalang.
Menurut
Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif,
apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan
dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita
berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang
mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu
besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Efek dari
stress, yaitu :
Efek dari
stress bermacam-macam, mulai dari timbulnya uban, membahayakan kesehatan
jantung, resiko stroke meningkat, meningkatkan resiko penyakit kronis, memicu
gejala depresi, dan juga tumor dan kanker. Ini terbukti dari berbagai
penelitian mengenai stress, yang biasanya berakibat pada munculnya suatu hormon
akibat stress tersebut. Diharapkan, di masa depan akan muncul obat-obatan untuk
mengatasi berbagai efek dari stress ini. Apalagi stress yang kronis dapat
mengakibatkan penurunan kadar protein p53. Sementara itu jenis protein ini
dibutuhkan untuk mencegah munculnya kanker.
2. Faktor
Lazarus dan
Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga kelompok sumber yang
menyebabkan stress, yaitu :
Fenomena
catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas, dan
kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bencana alam, perang, banjir, dan
sebagainya. Kejadian-kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti
pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit
seperti respon seseorang terhadap penyakit atau kematian. Daily hassles, yaitu
masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut
ketidakpuasan kerja atau masalah-masalah lingkungan seperti kesesakan atau
kebisingan karena polusi.
3. Tipe-tipe
Stres Psikologi
- Tekanan :
- Frustasi: Frustasi adalah situasi apapun dimana individu tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Kegagalan dan kehilangan adalah dua hal yang terutama membuat frustasi.
- Konflik: Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
- Kecemasan: Taylor (1953) dalam Tailor Manifest Anxiety Scale (TMAS) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Carlson (1992:201) menjelaskan kecemasan sebagai rasa takut dan antisipasi terhadap nasib buruk dimasa yang akan datang, kecemasan ini memiliki bayangan bahwa ada bahaya yang mengancam dalam suatu aktivitas dan obyek, yang jika seseorang melihat gejala itu maka ia akan merasa cemas.
4. Mekanisme
pertahanan diri dan Coping Stres
a.
Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada
masalah. Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003 : 566) penanganan stres atau
coping terdiri dari dua bentuk, yaitu:
- Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
- Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.
b.Strategi
penanganan stres dengan mendekat dan menghindar (Santrock, 2003 : 567):
- Strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
- Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres
Menurut
Ebata & Moos, 1994 (dalam Santrock, 2003 : 567) individu yang menggunakan
strategi mendekat untuk menghadapi stres adalah remaja yang berusia lebih tua,
lebih aktif, menilai stresor utama yang muncul sebagai sesuatu yang dapat
dikendalikan dan sebagai suatu tantangan, dan memiliki sumber daya sosial yang
dapat digunakan. Sedangkan, individu yang menggunakan strategi menghindar mudah
merasa tertekan dan mengalami stres, memiliki stresor yang lebih kronis, dan
telah mengalami kejadian-kejadian yang lebih negatif dalam kehidupannya selama
tahun sebelumnya.
c. Berpikir
positif dan self-efficacy
Menurut
Bandura (dalam Santrock, 2003 : 567) self-efficacy adalah sikap optimis yang
memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model
realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu
dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri
mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu
dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai
diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang,
melihat segala sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa
tertekan. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar
pada kenyataan atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang
paling efektif (dalam Santrock, 2003 : 568).
d. Sistem
dukungan
Menurut
East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar (dalam Santrock,
2003 : 568), keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain – terutama
dengan keluarga dan teman – secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang
baik terhadap stres.
e. Berbagai
strategi penanganan stres
Dalam
penanganan stres dapat menggunakan berbagai strategi coping, karena stres juga
disebabkan tidak hanya oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai faktor
(Susman, 1991 dalam Santrock, 2003 : 569).
5. Problem
Solving terhadap Stres
Kita
mengalahkan stress dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang membuat
stress itu). Misalnya, kita stress karena menderita suatu penyakit, maka kita
menyelesaikan masalah dengan berobat sehingga penyakit kita bisa sembuh. Atau
bisa juga dengan mengusahakan agar kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi
yang terjadi (bila situasinya sendiri tidak bisa dirubah).
Sumber:
http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html
http://tysar.wordpress.com/2009/06/24/pengertian-kecemasan/
http://yuliamasri-yuliamasri.blogspot.com/2010/05/makalah-kelompok-psikologi.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
http://salvinirayyan-tugas.blogspot.com/2011/03/stress-dan-penyesuaian-diri.html
http://meltri-elia.blogspot.com/2011/04/stress-menurut-hans-selye.html
http://erriskareza.blogspot.com/2012/02/faktor-faktor-yang-menyebabkan-stress.html
http://mita.blog.unair.ac.id/2012/05/11/efek-stress/
http://health.detik.com/read/2013/02/05/152425/2161718/763/4/ketahuilah-ini-9-efek-mengerikan-dari-stres#bigpic
http://masimamgun.blogspot.com/2010/04/konsep-penyesuaian-diri.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
http://naratekpend.wordpress.com/2012/07/03/penyesuaian-diri-remaja/
Label: soft skill 4
Senin, 01 April 2013
KESEHATAN MENTAL : KONSEP SEHAT, SEJARAH KESEHATAN MENTAL, PENDEKATAN DAN TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
0 komentar Diposting oleh Galluh di 5:51:00 AM
Sehat
menurut saya adalah suatu kondisi dimana tubuh atau jasmani dalam keadaan prima
dan normal serta bisa melakukan kegiatan tanpa lelah fisik yang berlebih
seperti orang sakit. Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO), pada tahun 1948, kesehatan didefinisikan sebagai “keadaan lengkap
fisik, mental, dan kesejahteraan sosial dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau
kelemahan”. Pada 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan,
mengatakan bahwa kesehatan
adalah “sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan dari kehidupan.
Konsep
sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara
bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
Menurut White (1977) Sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu
diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu
penyakit dan kelainan. Sedangkan menurut Pepkin’s Sehat adalah suatu keadaan
keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi yang dapat mengadakan
penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
Kesehatan manusia dipengaruhi oleh 6 faktor yaitu : 1. Udara 2. Air 3. Makanan dan Minuman 4. Keseimbangan Emosi 5. Olahraga Teratur 6. Istirahat Cukup
Kesehatan manusia dipengaruhi oleh 6 faktor yaitu : 1. Udara 2. Air 3. Makanan dan Minuman 4. Keseimbangan Emosi 5. Olahraga Teratur 6. Istirahat Cukup
·
Konsep
sehat berdasarkan :
1. Dimensi Emosi
Menurut Goleman emosional merupakan
hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah, sedih dan senang. Emosi menurut kebanyakan orang
adalah keadaan seseorang yang sedang marah, padahal sebenarnya emosi itu tidak
hanya pada saat seseorang marah saat bahagia pun itu juga disebut emosi.
Kemarahan bisa juga disebut emosi negatif sedangkan senang bisa disebut emosi
positif. Menurut saya konsep sehat dimensi emosi adalah dimana seseorang dapat
mengimbangi keadaan emosi positif dengan emosi negatif ataupun seseorang yang
sudah pandai mengendalikan emosi dalam dirinya.
2. Dimensi Intelektual
Seringkali kecerdasaan atau intelektual
seseorang dikaitkan bagaimana seseorang dapat mengendalikan emosi serta
kesehatannya. Karena kecerdasan juga berperan dalam pengendalian sesuatu
ataupun memutuskan dan memilih konsep – konsep yang baik.
3. Dimensi Sosial
Kesehatan mental seseorang jika
diukur dari dimensi sosialnya adalah bagaimana seseorang dapat melakukan
interaksi sosial yang baik dengan lingkungan sekitar dengan suku, agama, ras
ataupun kewarganegaraan yang berbeda.
4. Dimensi Fisik dan Mental
Fisik seseorang dikatakan sehat
apabila tidak merasakan sakit dan dapat beraktivitas secara normal dan optimal.
Serta keadaan seluruh organ tubuh berjalan normal tidak memiliki gangguan.
Sedangkan mental seseorang dikatakan sehat apabila emosi dan pikiran seseorang
berjalan baik atau sehat seperti dapat mengendalikan emosi dan merubah pikiran
yang negatif menjadi positif.
5.
Dimensi Spiritual
Spiritual
adalah sesuatu yang berhubungan dengan kerohanian atau keagamaan. Spiritual
seseorang dikatakan baik apabila dapat mengekspresikan rasa syukur dan
kepercayaan kepada Tuhan serta menjauhi
segala larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
·
Sejarah
Perkembangan Kesehatan Mental
Semua
ilmu pasti tidak lepas dari sejarah kemunculan dan perkembangannya, begitupun
kesehatan mental yang mempunyai sejarah perkembangannya. Sejarah perkembangan
kesehatan mental dimulai dari era pra ilmiah sampai era ilmiah (modern).
A. Era pra Ilmiah
1. Kepercayaan Animisme
Sejak zaman dulu sikap terhadap
gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme,
ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasisi oleh roh-roh atau
dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu
berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda
tersebut.
Orang yunani percaya bahwa gangguan
mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari
kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra
dari korban.
2. Kemunculan Naturalisme
Perubahan sikap terhadap tradisi
animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikuutnya
mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan
pendekatan ”Naturalisme”, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental
atau fisik itu merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh,
dewa, syetan atau hantui sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika anda
memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau
yang amis, akan tetapi anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantuyang melukai
badan anda”.
Ide naturalistik ini kemudian
dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan
atau pembedahan hewan.
Dalam perkembangan selajutnya,
pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi dikalangan orang-orang
kristen. Seorang dokter perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan
filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit
mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di
rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat ditembok dan
ditempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih,
adan mereka dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan disekitar ruimah
sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan
lagi kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.
B. Era Ilmiah (Modern)
Perubahan yang sangat berarti dalam
sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan
tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat
berkembangnya Psikologi Abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada
tahun 1783. Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan
pengaruh kepada lahirnya Mental Hygiene yang berkembang menjadi suatu ”Body Of
Knowledge” berikut gerakan-gerakan yang teorganisir.
Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi
oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, dalam hal ini terutama dari
dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers.
Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan
mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix
lahir pada tahun 1802 dan meninggal duinia tanggal 17 July 1887. Dia adalah
seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap
orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama
40tahun dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila
secara lebih manusiawi.
Pada tahun 1909, gerakan kesehatan
mental secara formal mulai muncul. Selama dsekade 1900-1990 beberpa organisasi
kesehetran mental telah didirikan, sepert: American Social Hygiene Associatin
(ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.
Perkembangan gerakan-gerakan
dibidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers
(1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The
Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang
luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang
sangat manusiawi.
Pada tahun 1950 organisasi kesehatan
mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For
Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat
lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health
Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.
Gerakan kesehatan mental ini terus
berkambang, sehingga pada tahun 1075 di Amerika serikat terdapat lebih dari
seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Dibelahan dunia lainnya, gerakan
ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The
World Health Organization”.
·
Pendekatan
Kesehatan Mental
Disini
akan dijelaskan pendekatan kesehatan mental menurut :
1. Orientasi Klasik
Klasik
memiliki arti sempit, karena kajian ilmu kesehatan mental lebih diperuntukkan bagi orang yang mengalami gangguan & penyakit jiwa. Pendekatan ini banyak digunakan untuk
penyembuhan ktraumatik di masa lalu.
2. Penyesuaian Diri
Difokuskan
bagaimana individu dapat menyesuaikan diri di lingkungan sekitarnya serta menyesuaikan dengan norma
yang berlaku.
3.
Pengembangan Potensi
Pendekatan
yang difokuskan pada potensi yang ada pada diri seseorang. Bagaimana potensi
seseorang untuk menjadikan dirinya dewasa ataupun untuk menempatkan dirinya
sesuai keinginannya.
·
Teori
Kepribadian Sehat
1. Aliran Psikoanalisis
Psikoanalisis
telah memberi kepada kita hanya sisi yang sakit dari kodrat manusia karena hanya berpusat pada tingkah
laku neurotis dan psikotis
2. Aliran Behavioristik
Behaviorisme
memperlakukan manusia sebagai suatu mesin “suatu sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara – cara sesuai dengan
hukum.”
3. Aliran Humanistik
Menurut aliran ini pribadi yang sehat adalah
apabila individu dapat menerima diri
apa adanya.
4. Pendapat Allport
Ada
segi lain dari konsepsi Allport tentang kepribadian sehat yang mungkin terlihat paradoks. Dia mengemukakan
bahwa meskipun subtujuan – tujuan yang dekat dapat
dicapai, namun tujuan terakhir tidak dapat dicapai. Teori Allport tentang dorongan dari kepribadian yang sehat
memasukkan juga “prinsip penguasaan dan kemampuan”
yang berpendapat bahwa orang yang matang dan sehat tidak cukup dengan melaksanakan atau mencapai tingkat yang
sedang.
5. Pendapat Carl Rogers
Rogers
menempatkan suatu dorongan yang sistemnya tentang kepribadian : memelihara, mengaktualisasi, dan
meningkatkan semua segi individu. Syarat utama bagi
timbulnya kepribadianyang sehat adalah penerimaan. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang yang
diberikan dengan bebas, dan sikap yang ditampilkannya
bagi anak itu menjadi norma dan standar yang diinternalisasikan.
6. Pendapat Abraham Maslow
Dalam
pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang
dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri. Akan tetapi ada lebih banyak
hal yang terkandung dalam teorinya tentang dorongan manusia.
7. Pendapat Erich Fromm
Fromm
melihat kepribadian hanya sebagai suaut produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa
harus didefenisikan menurut bagaimana baiknya
masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu
menyesuaikan diri dengan masyarakat. Faktor
kunci ialah bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan manusia.
Sumber :
Schultz, Duane.
1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta:
Kanisius.
Label: soft skill 4
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)
